
Hari Rabu tanggal 19 Februari 2025, SMP Negeri 1 Banjarmasin kembali menggelar aksi nyata Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Kewirausahaan oleh siswa siswi kelas 7 dengan tema “Generasi Muda, Pengusaha Hebat”.
Aksi nyata hari pertama ini digelar dengan harapan dapat membangun kesadaran dan wawasan peserta didik terhadap pentingnya wirausaha.
Tentang Kewirausahaan
Innovation
Pada fase ini wirausahawan akan mencari ide dan menyeleksi ide. Untuk itu, hal
yang diharapkan oleh wirausahawan adalah menemukan ide sebanyak mungkin dan
membuat alat untuk menyaring ide-ide tersebut. Faktor yang mempengaruhi hal ini adalah
faktor pribadi dan faktor lingkungan. Faktor pribadi yang muncul antara lain: kreativitas,
toleransi terhadap ide yang ambigu, dan aktif mencari informasi.
Kreativitas merupakan sifat yang dekat dengan penemuan. Besar ide inovatif yang
dihasilkan oleh wirausahawan dapat dilihat dari seberapa kreatif wirausahawan tersebut.
Toleransi terhadap ide yang ambigu mempengaruhi bagaimana wirausahawan menyaring
ide. Sementara itu, untuk membentuk alat yang bisa menyaring ide-ide tersebut, dibutuhkan
kemampuan mencari informasi yang aktif. Semakin banyak informasi yang didapat, semakin
baik wirausahawan dalam menyaring ide mereka.
Di sisi lain, lingkungan juga dapat mempengaruhi fase ini. Wirausahawan bisa jadi
mendasarkan inovasinya pada responnya terhadap lingkungan. Drucker (dalam Moore,
1986) menyatakan bahwa terdapat tujuh tipe respon yang mendasari adanya inovasi, yakni:
- kegagalan/ atau keberhasilan yang tiba-tiba dibandingkan kejadian biasa,
- ketidakselarasan antara cara berpikir wirausahawan dengan lingkungannya,
- kebutuhan atas cara yang lebih baik dalam mengerjakan sesuatu,
- perubahan yang tiba-tiba di dunia industri atau pasar,
- perubahan demografis,
- perubahan persepsi, nilai, dan atau norma di lingkungan, atau
- pengembangan ilmu dan atau pengetahuan baru.
Selain itu, motivasi wirausahawan juga didorong oleh bagaimana lingkungan
memperlakukannya, seperti: penghargaan, keragaman pilihan profesi, tekanan, pengawasan,
situasi, bantuan, dan lain sebagainya. Tingginya dukungan dan bantuan bagi wirausahawan
mendorong tumbuhnya kreativitas yang berperan besar dalam fase awal kewirausahaan.
Implementation
Dalam fase ini, wirausahawan melakukan beberapa hal, yakni:
- Mengenali barang baru
- Mengenali metode produksi yang baru
- Membuka pasar baru
- Membuka sumber pasokan baru
- Reorganisasi industri
Fase ini ditentukan oleh komitmen wirausahawan. Faktor personal seperti sifat
berani mengambil risiko dan tingkat kepuasan terhadap bagaimana ia bekerja. Fase ini juga
dipengaruhi oleh karakteristik fase sebelumnya. Kesempurnaan ide, organ usaha, dan rekan
kerja mempengaruhi keberhasilan wirausahawan dalam mengimplementasikan ide. Ide yang
masih baru dan belum pernah didengar akan lebih susah diimplementasikan dibandingkan
ide yang familiar.
Selain itu, faktor lingkungan mempengaruhi bagaimana implementasi ini terjadi.
Copper (dalam Moore, 1986) menyatakan bahwa wirausaha akan lebih banyak muncul pada
saat industri bertumbuh dengan cepat, adanya kesempatan untuk segmentasi, dan modal
investasi rendah. Beberapa firma yang berada di daerah dengan tingkat wirausaha tinggi
akan lebih mudah mendorong orang untuk meluncurkan ide bisnisnya.

Growth
Fase terakhir dari proses kewirausahaan adalah pengembangan. Pada fase ini
wirausahawan dianggap telah berhasil membutuhkan kemampuan manajerial untuk bisa
memandu pertumbuhan usaha. Faktor personal yang mempengaruhi fase ini antara lain
pendidikan dan dan pengalaman dan kemampuan manajerial. Vesper (dalam Moore 1986)
menyatakan bahwa semakin tinggi pengalaman yang dimiliki, semakin besar pula
kemampuan wirausahawan dalam mengenali permasalahan awal dan menyelesaikannya
sebelum masalah tersebut mempengaruhi jalannya usaha. Selain itu, faktor lain seperti
efektifitas, struktur, iklim, dan respon lingkungan terhadap usaha mempengaruhi fase ini.






